Ungkapan sehari-hari tentang “Omah”

Pengertian tentang “Omah” adalah sebagai tempat tinggal. Tapi dalahm keseharian orang jawa, ada beberapa ungkapan yang dipakai dengan menggunakan istilah omah. Hal ini akan mengantarkan kita pada pemaknaan kata omah itu sendir secara lebih bersahaja. Berikut misalnya :

- Omah saduwuring jaran : artinya persekutuna yang menetang penguasa atau raja

- Nredegake omah ing parwedhen : artinya mendirikan rumah diatas tanah yang berpasir yang memiliki arti percaya pada yang licik.

- Omah-omah (rumah-rumha) : artinya sudah berumah tangga.

 

 

Apakah Anda Pecinta Rumah Joglo

Ada level selera tertentu ketika seseorang menyukai rumah joglo. Sebuah bentuk apresiasi langka ditengah maraknya bentuk rumah modern. Orang yang akhirnya punya minat pada rumah joglo biasanya punya jiwa seni tinggi dan ketertarikan pada kesenian tradisional yang berkaitan dengan rumah joglo dan suasana yang terbangun secara magis tradisional seperti alunan suara gamelan dan pusaka keris jawa.

Suasana yang dibangun dengan nuansa tradisional tidak hanya kita temui pada rumah tapi juga tempat-tempat publik seperti galeri seni, lobby hotel dan restoran. Salah satu yang mudah kita temukan adalah restoran. Coba saja ada datangi restoran dengan nuansa tradisional jawa. Anda akan serasa di keraton ketika dimanjakan dengan harumnya bunga kamboja dan alunan musik gamelan.

Jadi, wow about anda? Aoakah juga passion terhadap kesenian jawa?

Ruang-ruang dan Filosofi Rumah Joglo

Joglo merupakan salah satu karya arsitektur khas Jawa Tengah.  Ciri khas dari bangunan joglo dapat kita lihat pada empat tiang utama yang disebut dengan “Soko Guru”. Keempat tiang ini berada di tengah dan merupakan struktur utama dari penopang atap joglo secara keseluruhan.

Ada tiga bagian utama yang menjadi pembagi ruang pada rumah joglo. Setiap ruang memiliki fungsi khusus tersendiri. Bagian-bagian tersebut yaitu : “Pendhapa” yang berada di depan, “Pringgitan” yang ada ditengah dan “Dalem” yang merupakan area ruang keluarga yang kemudian disekat menjadi kamar-kamar yang disebut “Sentong”.

Ada nilai filososfi yang berbeda pada tiap-tiap ruang, berikut adalah penjelasannya :

Bagian Pendhapa

Merupakan area  tanpa dinding yang mengelilingi bangunan. Terdiri dari tiang penyangga dan atap saja sehingga ruang tersebut menjadi terbuka dan lapang . Filosofi yang terkandung pada ruang ini adalah ramah, terbuka, dan tidak pilih kasih dalam menerima tamu. Pada rumah joglo yang sesunguhnya, kita tidak akan menemukan mebel pada ruang ini, hanya tikar sebagai alas duduk untuk bercengkerama.

Bagian Pringgitan

Merupakan area tengah. Bagian ini merupakan bagian ruang yang berada di antara Pendhapa dan Dalem. Biasa digunakan untuk acara pementasan wayang kulit. Ini merupakan simbol kesadaran dari penghuni rumah bahwa dirinya hanyalah seorang wayang (bayang-bayang) dari Dewi Sri (Dewi Padi) yang dipercaya masyarakat Jawa sebagai sumber dari kehidupan, kesuburan dan kebahagiaan.

Bagian Dalem

Sedangkan untuk area privasi pemilik rumah disebut Dalem. Pada area in terdapat ruang untuk keluarga dan kamar-kamar yang disebut Senthong. Rumah joglo yang asli hanya terdiri dari tiga senthong. Senthong pertama untuk kaum laki-laki, senthong kedua dibiarkan kosong namun diisi dengan amben lengkap, dan sentong ketiga digunakan untuk kaum perempuan.

Itulah keindahan dan keunikan rumah joglo yang merupakan salah satu kekayaan arsitektur negeri ini. Meskipun saat ini banyak bermunculan rumah modern, kita masih bisa menemukan beberapa rumah joglo yang kadang malah dimodif juga dengan gaya arsitektur modern. Hal ini merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap peninggalan budaya yang harus terus lestari.

Keindahan Rumah Joglo

Rumah joglo banyak kita temui didaerah pedesaan. Daerah yang masih kental dengan budaya jawa dan belum terlalu terkontaminasi oleh modernisasi. Didaerah nenek moyang saya, Jepara, masih bisa kita temui deretan rumah joglo. Ada yang berkelas ningrat, ada yang sederhana. Meskipun disejeliling mereka banyak pula ditumbuhi oleh rumah bergaya modern.

Tapi saat ini rupanya keindahan rumah joglo mulai banyak diminati oleh para penggemar benda antik, kolektor, atau orang-orang yang memiliki kecintaan pada kesenian dan budaya jawa. Konon rumah joglo asli yang umurnya sudah ratusan tahun dengan bahan kayu jati bisa bernilai sangat tinggi jika dibanding rumah bata modern. Jika orang yang tidak bisa menikmati keindahan rumah ini mungkin akan heran. Lha wong rumah sudah tua kok mahal. Mereka tentu lebih memilih rumah modern yang lebib up to date dan tidak ketinggalan jaman.